“BELAJAR DARI ALAM”

By Neissaroh Al Mardhiah
(Santriwati kelas XI B)

MA Al Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung, minggu lalu mengadakan kemah santri selama dua hari satu malam. Dimulai dari Rabu, 26 September 2018 siang hari  hingga kamis, 27 September 2018 sore hari. Bertempat di Wisata Alam Jumprit Ngadirejo Temanggung, atau yang sering dikenal dengan Wapit. Walaupun dengan hari yang singkat, namun terkesan menggores pengalaman yang berharga. Kegiatan ini merupakan kegiatan perdana yang akan dirutinkan setiap tahunnya dengan anggaran dana dari iuran santri perbulannya.

            Dalam kegiatan ini banyak yang terlibat, para santri sebagai peserta, panitia gabungan tiga organisasi (IPM, HW, dan TS) MA Al Mu’min, Ustad Zaki Abdillah dan Ustad Ja’far Sodiq sebai satgas, serta pak Joko sebagai kokam yang mengawasi berlangsungnya acara. Tanpa mereka semua tidak akan berjalan kegiatan ini. Tidak lupa para peserta pun dibagi menjadi delapan kelompok dengan nama identitas yang berbeda. Mereka diminta untuk memberi nama kelompoknya dengan tema bunga dalam bahasa arab.  Diantaranya adalah Yasmin (melati), Burtuqalun (kantil), Nailufar (teratai), Zahrotunnar (kembang api), Najmatusshobah (terompet), Urkid (anggrek), Qirtos (Bugenfil), dan Huzama (tulip).

            Perkemahan ini diawali dengan apel pembukaan  dan peresmian kemah santri oleh Bapak Irawan selaku mantan Wakil Bupati Temanggung  dan juga pengelola tanah Wapit. Dalam perkemahan ini masing masing kelompok  diminta untuk mendirikan tendanya sendiri, memasak sendiri, serta kegiatan yang didampingi oleh panitia seperti outbond, jerit malam, pentas seni, dan api unggun. Kegiatan unik yang penulis rasakan adalah sholat berjamaah di alam terbuka. Mendengar narasumber yang memberikan pernyataan bahwa mereka sempet bingung menentukan arah kiblat. “ Waktu itu sedang sholat dzuhur , udah dapat dua rakaat, eh tiba tiba disuruh membatalkan. Katanya salah kiblat gitu.” Penuturan sang narasumber sambil menahan tawa. Setelah mencari arah mata angin menggunakan google maps, akhirnya ditemukan jalan keluar.

Bukan hanya itu, di tengah kesunyian antara malam dan pagi, para santri meramaikannya dengan sholat tahajud berjamaah usai jerit malam. Dengan alas sujud yang bergelombang, dengan deruan nada urung hantu, dan dengan suhu dingin yang merasuk hingga tulang belulang, namun mereka tetap gigih tanpa keluhan sedikitpun. Kemahpun diakhiri dengan apel penutupan dan pembagian hadiah bagi para pemenang. Para pemenang adalah mereka yang disiplin, kompak, semangat, dan  gesit dalam menanggapi suatu masalah. Mereka yang memenuhi kategori di atas adalah kelompok Burtuqalun, zahrotunnar, dan Huzama. Dengan semangat mereka, diharapkan bisa menjadi  contoh di tahun yang akan datang atau bahkan lebih baik lagi.