“CERITAMU” 
Written by Ana Alifiani (Santriwati Kelas XII B)

Tawa anak-anak kecil di taman terdengar begitu riang di telinga, termasuk tawaku juga. Bermain di taman saat hari libur adakah kegiatan yang menjadi favoritku, rutinitas yang harus aku lakukan saat liburan. Bagiku, sekedar duduk di bangku panjang taman di dekat gemericik air mancur adalah salah satu kebahagiaan tersendiri bagiku. Kebahagiaan atas ketenangannya.

Didalam genggamanku, ada permen-permen kecil yang sengaja kembaranku berikan padaku. katanya, supaya Twin manisku ini enggak bosan. Dia – kembaranku, sangan menyenangkan, selalu memberiku apa yang tak terduga-duga, kejutan yang menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku.

“Lea!” seru kembaranku diantara gedebuk langkah kakinya.

Tak lama kemudian, dia duduk dan memegang pundakku. Nafasnya terengah-engah.

“Ada apa, Lia?” tanyaku.

Azalia, nama adikku adalah Azalia. Dari cerita ibuku nama aku dan adikku diambil dari nama bunga di Korea. Nama bunga yang menjadi namaku, Azalea.

Lia tergerak sambil menghentak-hentakkan kaki, “Lea Lea ! anak-anak kecil yang diujung taman sana lucu… bangetkan, disana ada kolam ikan, nah mereka main bola. Eh bolanya masuk ke dalam kolam itu.” Dia tergelak, “haduh lucu banget.” lanjutnya masih dengan gelak tawanya.

“Sudah hampir senja, Lea. Mau pulang kapan?” tanyanya lalu memegang tanganku.

“Benarkah sudah hampir senja? kalau gitu, kita pulang sekarang aja.” jawabku sambil tersenyum.

Aku berdiri, disusul adikku yang menggandeng tanganku lalu berjalan bersamaku.

“Twin Lea!” serunya.

Dia memanglah adikku jika diurutkan dari lahirnya, tapi kita sudah sepakat untuk tidak saling memanggil dengan sebutan kakak atau adik. Akan tetapi, terkadang kami menggunakan sebutan twin-kembaran dalam bahasa Inggris.

“Iya, Lia kenapa?”

“Senja hari ini begitu indah.”

Aku memperlebar senyumku, menggenggam tangannya semakin erat, “Benarkah?”

Lia selalu bercerita banyak hal, apa-apa yang dia lihat, dia selalu menceritakannya padaku.

Beberapa menit kemudian, dia berseru jika kita sudah sampai di rumah.

Aku duduk di kursi beranda rumah, menungg Lia yang katanya mau mengambilkanku minum.

Lia kembali, aku tahu karena mendengarnya meletakkan gelas sampai berbunyi “klutik”.

“Diminum, Lea!” titahnya.

Aku mengangguk.

Beberapa detik berlalu hanya dengan keheningan. Kami saling diam.

“Lia,” Ucapku memecah keheningan.

“Iya ? ada apa twin cantikku?”

Aku tersenyum, “makasih, untuk cerita-ceritamu selama ini, cerita yang menjadi caramu mengenalkanku bentuknya dunia yang kamu lihat.”

Lia terdiam begitu lama.

“Lia? kamu masih disini?” tanyaku.

Tak lama kemudian terdengar suara isak tangis, suara isak tangis siapa lagi kalau bukan suara Lia.

“Lia? kamu menangis?” aku khawatir.

“Lea… aku hanya ingin kamu juga bisa merasakan apa yang aku rasakan. Bisa membayangkan apa yang terjadi di sekitarmu dengan cerita-ceritaku itu. walau aku tau -“.

Dia kembali terisak, aku hanyut dalam ucapannya. Dia benar, aku selalu membayangkan apa-apa yang ada di sekitarku, anak-anak bermain bola, air mancur dan senja yang kata Lia begitu indah.

Sayangnya.. hanya gelaplah yang bisa kulihat. “aku sudah sangat bahagia, walau hanya bisa mendengar ceritamu tentang indahnya dunia. Aku ingin melihat dunia yang kamu lihat. Tapi… dengan ceritamu saja cukup untukku tau kamu bahagia dengan yang kamu lihat. Indah kan?” Tak terasa air mataku meleleh.

Lia semakin terisak.

Sudah beberapa kali kami menangis saat membahas hal ini, tentang mataku yang harus berbeda dengan milik Lia dan orang bermata normal diluar sana. Ya, sejak lahir, mataku sudah buta.

“Tapi, Lea…” lirihnya di sela-sela isak tangisnya.

“ada kebahagiaan tersendiri bagimu, dengan tidak melihatnya kamu dengan hal yang tidak seharusnya dilihat.” lanjutnya.

Aku tersenyum, mencoba mencari wajah Lia lalu mengusap air matanya yang masih terus mengalir.

Aku megangguk mantap, lalu tersenyum. Berharap Lia akan ikut tersenyum. Tak lama kemuadian suara ibu mendekat.

“Sedang membicarakan apa sih, kalian?” Tanya ibu lalu memegang pundakku.

Aku tersenyum, ” tentang, cerita-cerita Ayah, Ibu dan Lia yang mewakili pemandangan dunia ini, Bu. Lea senang mendengar cerita-cerita itu.”

Ya, cerita mereka. Semoga kelak bisa kulihat dengan nyata dihadapanku. Itu harapanku.

___END___