“DIALOG HATI”
Part 1

By Athiya Rihadatul ‘Aisy Qotrun Nada
(Santriwati Kelas XI B)

Asrama Central 22:59

Umurku lima belas. Duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah hal yang selalu inginku rasakan. Namun, entah mengapa sekarang hal tersebut menjadi seperti sesuatu yang sulit ku bayangkan, dan seperti mustahil untuk ku rasakan. Kerasnya hidup ini membuat aku semakin cemas. Entah bagaimana. Masa depan. Dan rasa cemas selalu menghantui saat aku memikirkan tentang masa depan. Terlebih pengumuman kelulusan sebentar lagi. Dan semoga cemas tak menyertai.

“Nawang,,, kau  tak bisa melihat jam itu ? Lihat! Sudah pukul sebelas tepat. Ini sudah hampir larut.. aku tau kau seorang pekerja keras , dan juga seorang yang rajin. Dan aku iri pada itu. Namun tubuhmu pun perlu istirahat nawang. lagi pula, ini adalah hari bersantai kita. hari dimana kita telah menyelesaikan serangkaian ujian.” Deta yang selalu perhartian padaku. teman ku sedari aku masuk Asrama Central ini. “Kau selalu baik padaku Deta, pujianmu sangatlah berlebihan. Baiklah nanti aku akan menyusul. masih ada beberapa poin lagi yang harus aku pelajari dalam bab ini. Selamat malam Deta”. Malam ini, aku menyelesaikan pelajaran kimia kelas x SMA. Bukan apa apa. Ini adalah salah satu caraku mengisi waktu. Tak mungkin bagiku melewatkan waktu berhargaku begitu saja, meskipun ini adalah jatah hari (seharusnya) santai ku. Persiapan masuk sekolah menengah atas selalu ku persiapkan. Namun entah, aku belum tahu.. apakah aku akan bisa sekolah lagi, atau tidak.

***

      Pagi. Ini adalah pagi termalas seluruh penduduk Asrama Central. Jelas saja, ini adalah libur sebelum pengumuman kelulusan. Namun tidak bagiku. Aku sudah bangun sedari pagi bersiap menuju laboratorium komputer asrama central. Untuk apa? Aku harus mencari sekolah lanjutan yang sama dengan asrama central ini. Sekolah berasrama gratis. Asrama Central ini adalah salah satu sekolah berasraman “gratis” namun bersyarat. Bukan hal mudah untuk masuk asrama central ini. Proses penyeleksian begitu ketat. Hanya menerima seratua lima puluh anak terpilih diantara lima ribu lebih pendaftar. Dan aku adalah satu diantara serarus lima puluh anak beruntung itu. Kini waktu pembelajaran diasrama central ini berakhir. Tiga tahun yang mengesankan.

     Setibanya di laboratorium komputer, tangaku dengan cekatan menghidupkan komputer dan memasukkan kata kunci dikotak pencarian. “Sekolah Berasrama Frabiro” muncul dilayar monitor. Setelah ku baca sekilas, sekolah itu adalah sekolah asrama biasa, namun setelah lama membaca, ternyata sekolah tersebut membuka beasiswa bagi anak anak berprestasi. Tak banyak. Hanya lima kuota saja yang diberikan. Tak apalah, aku akan mencobanya. Sekolah itu adalah sekolah yang aku cari selama ini. Sekolah kesehatan. Dan yang membuat aku semakin tertarik, ada jurusan farmasi disekolah itu, walau hanya membuka dua kuota beasiswa. Cemas. Bagaiamana jika aku tak lolos?. Hmm. Aku berdengung. Semoga aku salah satu dari keduanya.

     Tibalah saat yang ditunggu. Pengumuman kelulusan. Semua wali murid datang, dan tidak bagi orang tuaku. Memang aku tak memberi tahu. Jarak yang jauh. Biaya yang dibutuhkanpun tak sedikit. Aku mengalah. Tak apa. Acara pun dimulai. Berbagai tampilan adik adik kelas ikut memeriahkan acara kelulusan ini. Dan saat pembacaan kelulusan dimulai. Hatiku berdegup tak beraturan. “dan inilah lulusan terbaik tahun ini. Dengan predikat sempurna, Nawang Galuh Pratiwi!”. Aku tak salah dengar kan?. Alhamdulillah. Inj bukan mimpi! Akupun naik ke panggunng untuk memberikan sepatah dua kata.

     Acara pun selesai. Aku tak sabaran ingin menelpon ibu. Oh iya! Aku memiliku lima adik dan semuanya laki – laki. Tuut.. tuu.. suara menyambungkan telepon.

“Assalamualaikum ibu.. ini Nawang..”sehalus mungkin serandah mungkin aku beeucap pada ibu.“waalaikumussalam, ada apa Nawang?”. Karena, memang sebelumnya aku tak memberitahu ibu tentang acara kelulusan itu, ibu pastilah tidak tahu, maksud dan tujuanku telpon dilain jadwal menelponku. Karena aku tahu, tak ada biaya. Dan aku pun ingin menjadikan kelulusanku dengan nilai nilaiku hadiah bagi orangtua ku. “ibu apa kabar?” aku memulainya dengan bertanya kabar. “Kabar buruk Nawang, ayahmu mengalami kecelakaan. Kau, pulanglah sebisamu. Urus adik – adik mu. Ibumu sibuk menguus ayahmu.” Apa? Ayah kecelakaan?. “baik bu.. Nawang segera pulang” tes… air mata membasahi pipi. “baguslah kalau begitu nak.. namun ibu tak bisa membelikanmu tiket. Bagaimana?” Ya Tuhan. “tak apa buk, Nawang masih memiliki sedikit uang. Cukup untuk pulang”. Telepon terputus. Kalimat yang ibu ucapakan senpurna membuat air terjun baru di pipiku. Aku berlari menuji toilet. Berharap sepi mampu mengobati.

Aku sudah bersiap distasiun sedari pukul enam pagi. Menunggu kereta membawaku pulang. Pikiranku tertuju pada ayah.  Bagaimana keadaan ayah?. Tes.. air mata meluncur seketika tepat ketika kereta berhenti. Aku masuk, dan beruntung ada tempat duduk kosong. Aku mendudukinya. Didalam kereta, bayangan wajah ayah selalu muncul tak terkendali. Satu dua kali bayangan masa depan, pun juga menyertai meskipun semu. Saat itu, hati kecilku berkata aku hanya ingin memberi secuil kabar gembira pada ayah ibu! Aku hanya ingin membuat mereka bahagia! Dengan memeberi rajutan harapan masa depan yang lebih baik!. Kereta berhenti. Aku sudah sampai. Bergegaslah aku menuju rumah sakit, melihat keadaan ayah. Aku ingin segera menciumi tangannya yang tak pernah lelah, menghidupi aku, ibu, dan semua adiku. Kini ayah sedang diuji. Malaikat tanpa sayapku sedang berduka.

Bersambung…