Fatma…

By Ana Alifiani
(Santriwati Kelas XII B)

Langit sore yang menyejukkan mata. Siluet merah temaram yang sangat menawan, lengkap sudah kini dengan burung-burung yang berbondong-bondong kembali ke sarang.

Angin bertiup lembut. Menyibak helai kerudung putih yang mulai berwarna cokelat kusam. Kerudung lusuh yang selalu setia terpakai guna menutup aurat gadis kecil bermata coklat muda. Senja itu, sang gadis sedang bergeming di atas batu besar di tepi pantai.

“Fatma!” Terdengar suara lantang milik laki-laki bergelar Bapak.

Fatma yang mendengar namanya dipanggil langsung beranjak sambil menenteng buku besar yang ia temukan di tumpukan barang-barang rongsokan yang telah dikumpulkan oleh bapaknya. Bahkan kemanapun gadis ini pergi, buku itu selalu ada di genggamannya.

“Ada apa, Pak?” tanya Fatma dengan senyum menawan miliknya.

“Tolong bantu Bapak memilah rongsok!” titah Sang Bapak. Tanpa berfikir lama Fatma mengangguk mengiyakan.

Begitu jelas terlihat dari mata Fatma, dia adalah gadis yang selalu tulus mengerjakan apapun. Sehingga dia tetap bersyukur walau dia hanya tinggal di rumah kecil yang terbuat dari bambu, bersama bapaknya saja. Karena ibunya telah meninggal saat melahirkannya.

Memang terkadang ada siluet sedih di matanya. Saat melihat gadis lain tertawa lepas bersama ibu mereka. Terlebih saat melihat anak-anak yang seumuran dengannya sedang menenteng tas memakai seragam sekolah mereka, hati Fatma sedikit merasakan kesedihan. Tekadnya untuk sukses sangatlah kuat. Hingga  dia memutuskan, untuk belajar bersama alam yang selalu memeluknya.

Setiap hari, dia berjalan mengelilingi pantai. Menulis dari apa yang dia lihat dengan bahasa sederhana yang ia tahu. Ia belajar memahami alam sekaligus bersyair. Sederhana saja, karena dia sangat mengagumi penyair atau pujangga bernama Kahlil Gibran.

***

“Buku milik siapa ini?” Suara perempuan dari kejauhan yang sampai ke telinga Fatma. Hingga Fatma baru menyadari, kalau bukunya tidak ada di genggamannya. Seketika dia berlari ke sumber suara.

“Itu buku saya,” ucap Fatma sambil menunjuk bukunya yang masih berada di genggaman perempuan asing.

“Kamu bernama … Fatma?” perempuan itu membaca nama Fatma yang tertera di lembar pertama buku itu.

“Ya, saya Fatma.”

“Perkenalkan, saya Fauziyah.” Fauziyah tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Fatma, “Saya boleh membaca isinya, ‘kan?” tanya Fauziyah sambil menatap lekat wajah Fatma yang sedang tersenyum.

“Tentu.”

Fauziyah mengajak Fatma untuk duduk. Mereka berbincang-bincang. Termasuk menanyakan tentang pendidikan . Sampai saat Fauziyah menanyakan tentang Pendidikan tingkat apa yang kini sedang dijalani oleh Fatma. Membuat gadis bernanama Fatma itu tersenyum dengan mata yang berbinar.

“Terakhir, Fatma sekolah saat Fatma duduk di bangku kelas tiga SD, setelah itu Fatma tidak bisa melanjutkan sekolah karena Bapak tidak bisa membiayai. Fatma sedih, tapi Fatma yakin. Fatma bisa belajar, belajar dari apa yang telah Allah ciptakan. Sampai kini Fatma benar-benar telah sadar, setiap ciptaan-Nya itu memiliki arti dan alasan yang bisa kita pelajari,” jelas Fatma lalu menatap Fauziyah yang merasa haru.

Fauziyah yang mendengar penjelasan Fatma merasakan getaran di hatinya. Karena dirinya sendiri yang kini sudah bergelar sarjana. Terkadang belum bisa belajar dari apa yang telah Allah ciptakan.

Fauziyah yang kini menjadi sarjana sastra. Menawari Fatma untuk menjadikan tulisannya menjadi sebuah buku antologi. Di mana hasil penjualannya bisa dia gunakan untuk kebutuhannya.

Fatma yang mendengar kebaikan hati Fauziyah langsung berkaca-kaca dan seketika memeluk Fauziyah dengan erat. Ada air mata kebahagiaan di wajah Fatma juga Fauziyah.

“Tentu … Fatma mau. Terima kasih Kak Fauziyah, Kakak begitu baik,” ucap Fatma masih memeluk erat tubuh Fauziyah.

Waktu terus berjalan, semenjak senja waktu itu. Buku Fatma dijual di beberapa toko buku yang tersebar di kota itu. Hingga lambat laun, kini Fatma memiliki beberapa buku antologi. Bahkan kini dia mengajar sastra di rumah sastra miliknya sendiri. Baginya, ilmunya yang hanya sedikit itu, setidaknya bisa membantu mereka yang memiliki tekad ingin menggapai mimpi mereka.

Fatma, kini dikenal sebagai gadis yang memiliki karya hebat. Dia bisa sukses seperti ini karena apa? karena tekadnya untuk sukses sangatlah kuat. Dia serius menggapai mimpinya, walau dia hanya bergurukan ciptaan-Nya. Buktinya dia saja bisa sukses, apalagi yang belajar bersama guru dan ciptaan-Nya. Pasti, bisa lebih sukses dari Fatma.

Kuncinya, Ikhtiar (berusaha), Tawakal (menyerahkan semuanya pada-Nya), dan Berdo’a.