“THE SILVER EAGLE”

By Alifya Putri Suminar
(Santriwati Kelas XI B)

PROLOG

 Bulan terang benderang. Menggantung ditengah-tengah kegelapan cakrawala. Bintang gemintang berkedip, bersembunyi dibalik kerlip cahayanya. Awan kelabu berarak-arak, menyisir setiap jengkal permadani langit.

 Bumi membisu, membiarkan kebisingan peperangan berkecamuk. Memperjelas ketegangan yang kentara di wajah para prajurit.

 Jauh dari pusat peperangan, disebuah hutan yang hampir dikuasai kegelapan. Samar terdengar rintihan. Seorang wanita dengan pakaian bangsawan merintih kesakitan. Dua dayang dan seorang pengawal setia menunggui, berharap cemas pada keadaan ratunya.

 Ketegangan semakin mencekam. Perang masih berlangsung. Dengan napas tersengal dan ratusan peluh yang membanjiri dahi, sang ratu menahan jerit, kesakitan yang bertambah ia tak peduli, semata untuk keselamatan bayinya yang akan segera lahir.

 Lama berselang. Suasana tak keruan. Kegelapan mulai mendekati mereka. Angin berusak keras. Si bayi mulai meronta dalam rahim. Kesakitan semakin menusuki tubuh sang ratu.

 ‘’Aaaahh!!!”

 Satu jeritan memecah ketegangan. Angin seakan berhenti bertiup, begitu pula waktu, barang beberapa detik saja, disusul tangis si bayi yang begitu kencang.

 Peperangan tetap berlangsung. Senyum tipis, hampir tak terlihat, mengukir bibir sang raja yang masih sigap memegang pedang, menghalau pasukan kegelapan yang tiba-tiba menyerang malam ini. Sayup telinganya menangkap suara tangisan bayi. Ia tahu, sang anak telah lahir.

 Pasukan kegelapan yang menyisir hutan, sigap. Tangisan terhenti. Si bayi tertidur.

 Pengawal dan dua dayang terkesima. Bayi ajaib. Sama seperti sebelumnya. Sang ratu segera menyadari sesuatu. Tak ada waktu lama. Kemuadian melepas jubah beludrunya, membungkus bayinya dengan jubah tersebut.

 Kalung sederhana digenggaman tangan, segera ia pasang di leher bayi mungilnya. Mencium pipi merah. Menghirup aroma tubuhnya.

 “Ku mohon, bawa ia pergi,” pintanya seraya menyerahkan si bayi kepada pengawal pribadinya. “jaga ia baik-baik, aku akan mengirim kalian ke suatu tempat yang sudah lama ku pelajari.”

 Pengawal itu hanya menurut, entah tempat apa yang akan ia tempati nantinya. Ia percaya, itu tempat yang lebih baik dari dunianya saat ini, karena ini menyangkut kehidupan bayi istimewa di gendongannya.

 Keadaan semakin mencekam. Pasukan kegelapan mulai mengepung dari segala arah.

 “cepat masuk!” perintah sang ratu saat pusaran portal terbuka didepan mereka. Bau kegelapan semakin tercium. Pengawal itu melangkah.

 “jangan pernah ceritakan tentang dunia ini padanya. Sampai takdir yang membuatnya tahu.”

 Pengawal itu mengangguk. Membungkukkan badan, memberi hormat pada ratunya. Lalu pusaran portal membawanya pergi. Pasukan kegelapan yang mulai menyerang membuat sang ratu terpaksa menutup portal, sebelum dua dayang sempat memasuki portal.

 Pasukan kegelapan berhasil menangkap, membawa mereka pergi dari tempat itu, entah kemana.

 Sepasang mata bocah menatap. Berdiri di balik rapatnya semak belukar. Mengamati setiap kejadian yang memburu pikiran. Mata bulatnya menyadari sesuatu yang terjatuh. Disengaja, karena ia, secara tak sengaja menatap mata si wanita, yang seakan meminta pertolongan kepadanya.

 Ia mendekat. Setelah memastikan tidak ada lagi prajurit kegelapan yang berkeliaran.

 Sebuah bola ruby berkilau, tertimpa cahaya dari senter yang diarahkan ke permukaannya. Ia mengambilnya dan…-splash.

                Lubang portal terbuka.

 ***